ABSTRAK
Penulisan best practice ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah- Langkah, hasil atau dampak, kendala, faktor pendukung serta alternatif pengembangan dari penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1. Kegiatan praktik baik ini dilaksanakan mulai tahun 2019 sampai 2025. Metode yang digunakan dalam best practice ini adalah Mabar. Mabar merupakan akronim dari pemetaan, kolaborasi, bimbingan intensif dan refleksi. Kegiatan ini mengutamakan kepemimpinan peserta didik (student agency) yang mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan. Hasil yang diperoleh sebelum penerapan strategi Mabar adalah rendahnya prestasi yang diraih peserta didik, sedangkan setelah penerapan strategi Mabar maka prestasi peserta didik di SD Negeri Dempet 1 menunjukkan peningkatan yang signifikan baik dari kuantitas maupun level prestasinya. Sebelumnya hanya 36 kejuaraan menjadi 185 kejuaraan. Sebelum pembimbingan menggunakan strategi Mabar, kejuaraan di tingkat kabupaten 5% dan sisanya hanya di tingkat kecamatan (95%). Namun setelah pembimbingan dilakukan menggunakan strategi Mabar, capaian level prestasi meningkat sangat signifikan yaitu 62% di tingkat kecamatan, 24% di tingkat kabupaten, 8% di tingkat provinsi dan 6% di tingkat nasional.
The writing of this best practice aims to describe the steps, results or impact, constraints, supporting factors, and alternative developments of implementing the Mabar Strategy to Enhance Student Achievement at SD Negeri Dempet 1. This best practice activity was implemented from 2019 to 2025. The method used in this best practice is Mabar. Mabar is an acronym for Pemetaan (Mapping), Kolaborasi (Collaboration), Bimbingan Intensif (Intensive Guidance), and Refleksi (Reflection). This activity prioritizes student agency, which promotes voice, choice, and ownership. The result obtained before the implementation of the Mabar strategy was the low achievement secured by students, whereas after the implementation of the Mabar strategy, student achievement at SD Negeri Dempet 1 showed a significant increase in both quantity and level of achievement. Previously, there were only 36 championships, which increased to 185 championships. Before guidance using the Mabar strategy, only 5% of the championships were at the district level, with the rest only at the sub-district level (95%). However, after guidance was conducted using the Mabar strategy, the level of achievement increased significantly: 62% at the sub-district level, 24% at the district level, 8% at the provincial level, and 6% at the national level.
Keyword: Strategy, Mabar, Student Achievement
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut UU No. 14 Tahun 2015 tentang guru dan dosen, salah satu tugas
pokok dan fungsi guru adalah melakukan
pembimbingan terhadap peserta didik meliputi pembimbingan bakat, minat
dan prestasi.
Pembimbingan dilakukan untuk membantu kesulitan belajar peserta didik dan
memberi tuntunan terhadap segala potensi sesuai kodratnya agar mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia
ataupun sebagai anggota masyarakat. Hal ini sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantoro.
Berdasarkan pemikiran di atas, SD Negeri Dempet 1 mempunyai harapan agar
dapat mewujudkan prestasi peserta didik sesuai minat, bakat dan potensinya. Hal
ini sesuai dengan visi sekolah yaitu “Terwujudnya Warga Sekolah Yang Bermutu, Berakhlak
Mulia, Kreatif, Mandiri,
Bertanggungjawab, Menguasai Teknologi, Cinta Seni Dan Lingkungan”.
Selain itu, orang tua menaruh harapan besar pada sekolah agar putra
putrinya bisa unggul di berbagai cabang lomba.
Pemikiran ini wajar mengingat
kondisi geografis dan ekonomi di lingkungan sekolah sangat mendukung, sebagian
besar orang tua berpendidikan dan berpenghasilan tinggi.
Alasan orang
tua menyekolahkan di SD Negeri
Dempet 1, karena
sekolah ini dulu pernah menjadi sekolah favorit. Sekolah ini juga pernah
dipercaya menjadi sekolah gugus/
SD inti yang menjadi percontohan bagi sekolah lain/ SD
imbas di wilayah Kecamatan Dempet. Sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan saat itu juga patut diperhitungkan. Ada yang menjadi
narasumber dan aktif di berbagai kegiatan
pendidikan. Pembimbingan dan ekstrakurikuler pada saat itu sangat maju. Banyak sekolah
yang melakukan study banding untuk melihat kegiatan pembimbingan di sekolah
ini, sehingga menjadi inspirasi sekolah dari gugus lain.
2
Berikut ini data kondisi
awal capaian prestasi
SD Negeri Dempet
1 dalam 3 tahun terakhir
sebelum penulis ditugaskan.
Tabel 1 Kondisi
awal capaian prestasi
SD Negeri Dempet
1 dalam 3 tahun terakhir sebelum penulis ditugaskan
|
No |
Tahun |
Cabang lomba |
Jumlah |
||||||
|
FLS2N (5 cabang) |
FL2N (4 cabang) |
MAPSI (17 cabang) |
KSN (3 cabang) |
POPDA (17 cabang) |
Kepramukaan (6 cabang) |
Cabang lainnya |
|||
|
1 |
2016 |
2 |
0 |
4 |
0 |
2 |
0 |
3 |
11 |
|
2 |
2017 |
3 |
0 |
0 |
0 |
1 |
2 |
3 |
9 |
|
3 |
2018 |
4 |
0 |
6 |
3 |
2 |
0 |
1 |
16 |
Masalah ini tentunya harus segera diatasi untuk mengembalikan kepercayaan
masyarakat terhadap sekolah. Sekolah harus bisa mengembalikan marwah sekolah
bisa kembali unggul dalam prestasi dan karakter. Maka perlu strategi yang tepat untuk melakukan pembimbingan yang tidak hanya
dilakukan secara individu, membuat peserta didik menjadi bosan, teknik
yang monoton, dan tanpa pemetaan yang tepat. Penulis memliki gagasan untuk
melakukan pembimbingan yang mengedepankan kepemimpinan peserta didik (student agency) dimana suara peserta
didik didengarkan (voice),
memperhatikan setiap pilihan peserta didik dalam melakukan pembimbingan (choice), serta menumbuhkan kepemilikan
peserta didik (ownership). Ketika
peserta didik terhubung secara fisik, kognitif, atau sosial emosional dengan
yang sedang dipelajari, turut terlibat
aktif serta menunjukkan minat dalam proses
belajarnya, maka ia akan merasa 'memiliki' proses belajarnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
diatas, rumusan masalah
dalam best practice ini adalah
sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah langkah-langkah penerapan Strategi Mabar Untuk
Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1?
2.
Bagaimanakah hasil atau dampak dari penerapan Strategi Mabar
Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1?
3.
Bagaimanakah kendala
dari penerapan Strategi Mabar Untuk
Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1?
4.
Bagaimanakah faktor pendukung dari penerapan Strategi Mabar
Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1?
5. Bagaimanakah alternatif pengembangan dari penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan
masalah di atas, tujuan dari best practice ini
adalah:
1. Mendeskripsikan langkah-langkah penerapan
Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet
1.
2. Mendeskripsikan hasil atau dampak dari
penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD
Negeri Dempet 1.
3. Mendeskripsikan kendala dari penerapan Strategi
Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1.
4. Mendeskripsikan faktor pendukung dari
penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD
Negeri Dempet 1.
5. Mendeskripsikan alternatif pengembangan
dari penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di
SD Negeri Dempet 1.
D. 5
Manfaat dari penulisan
best practice
ini adalah:
1. Bagi
guru, penulisan best practice ini
diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pembinaan peserta didik
dengan tujuan agar prestasi dapat meningkat.
2. Bagi peserta
didik, sebagai sarana
dalam proses meningkatkan prestasi.
3. Bagi
komunitas belajar, sebagai bahan informasi bagi guru yang akan mengembangkan
ilmu pengetahuan di bidang pendidikan dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
4. Bagi sekolah, sebagai sarana peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
Penulisan best practice ini menguraikan tentang
(1) Strategi, (2) Mabar, dan (3) Prestasi
Peserta Didik.
Strategi secara etimologis itu berasal dari kata Strategos yang dalam bahasa yunani terbentuk dari kata stratos atau
tentara dan ego atau pemimpin. Sedangkan dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionaries (2010) menyatakan bahwa Strategy (noun) : a plan of
action designed to achieve a long-term or overall aim. Yang artinya rencana
aksi yang dirancang untuk mencapai jangka panjang atau tujuan secara
keseluruhan (Kusumadmo, 2013).
Menurut Tjiptono (2011) strategi merupakan sekumpulan cara dari
keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, sebuah rencana dalam
kurun waktu yang sudah ditentukan. Hal ini sependapat dengan Anthony, Parrewe,
dan Kacmar (2013) yang menyatakan bahwa strategi adalah sebagai formulasi misi
dan tujuan organisasi, termasuk didalamnya adalah rencana aksi untuk mencapai
tujuan dengan secara eksplisit mempertimbangkan kondisi persaingan dan pengaruh
kekuatan dari luar organisasi yang secara langsung atau tidak berpengaruh
terhadap kelangsungan organisasi.
Berdasarkan definisi strategi menurut arti bahasa yang digunakan di atas
maka dapat disimpulkan bahwa strategi adalah suatu rencana jangka panjang yang
disusun untuk menghantarkan pada suatu pencapaian akan tujuan dan sasaran
tertentu.
6
7
a.
Penulis selaku guru pembimbing melakukan pemetaan kepada
peserta didik sebagai langkah awal untuk mengetahui kompetensi awal peserta
didik melalui tes diagnostik.
b.
Penulis selaku guru pembimbing melakukan kolaborasi dengan
teman sejawat untuk menentukan strategi pembimbingan yang tepat sesuai dengan
kepemimpinan peserta didik (student
agency).
c.
Penulis selaku guru pembimbing melakukan bimbingan intensif
setelah ada kesepakatan belajar antara guru pembimbing dengan peserta didik
yang akan mengikuti lomba. Peran guru
pembimbing disini sebagai mitra dan
fasilitator belajar.
d.
Penulis selaku guru pembimbing melakukan refleksi dengan menggunakan berbagai model refleksi yang popular.
Contoh refleki seperti model segitiga refleksi
maupun refleksi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pengalaman yang didapat, dan Perbaikan
kedepan).
Dibandingkan dengan pola pembinaan lainnya, strategi Mabar memiliki
beberapa keunggulan yang penulis singkat dengan VCO, yaitu:
a.
Voice (mendengarkan suara peserta didik), mempertimbangkan suara
peserta didik adalah tentang bagaimana
kita memberdayakan mereka agar memiliki kekuatan untuk mempengaruhi
perubahan. Peserta didik 8
b. Choice (memperhatikan setiap
pilihan peserta didik dalam melakukan pembimbingan), peserta didik dibebaskan
memilih kesempatan- kesempatan dalam ranah sosial, lingkungan, dan
pembelajaran. Dalam ranah sosial, peserta didik diberikan kesempatan untuk
berada dalam kelompok yang sesuai
dengan tujuan/ minatnya;
dalam ranah lingkungan,
peserta didik diberikan kesempatan untuk memilih/ mengatur tempat belajar yang
sesuai. Dalam ranah lingkungan, peserta didik diberikan kesempatan untuk
memilih lingkungan belajar yang paling mendukung untuk mereka belajar secara
maksimal. Sedangkan dalam ranah pembelajaran, peserta didik diberikan pilihan
untuk mengakses, berlatih, atau membuktikan penguasaan pengetahuan atau
keterampilan dalam kurikulum. Bandura (1997) menegaskan pula bahwa memberikan
peserta didik pilihan juga akan meningkatkan motivasi dan otonomi peserta didik, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi diri setiap peserta didik (dalam
Thibodeaux et al, 2019).
c. Ownership (serta berusaha
menumbuhkan kepemilikan peserta didik), guru
dapat memberikan peserta
didik kesempatan untuk
memilih beberapa kegiatan
yang mereka lakukan (misalnya memilih cerita rakyat untuk lomba mendongeng atau
melakukan ujian SKK dan SKU saat kegiatan kepramukaan). Selain itu, guru juga memberikan peserta didik kesempatan untuk menilai diri sendiri dan
terlibat dalam proses penilaian (misalnya, melibatkan peserta didik dalam
mendiskusikan rancangan pentas budaya yang menarik dan inovatif).
Prestasi peserta
didik adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah
dilakukan/ dikerjakan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003: 895).
9
7
BAB
III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Metode dan Pelaksanaan
1.
Metode
Metode yang digunakan dalam best practice ini
adalah Mabar. Mabar merupakan akronim dari pemetaan, kolaborasi, bimbingan intensif dan refleksi.
Penulis menggunakan Mabar karena dalam melakukan pembimbingan diawali dengan
pemetaan minat, bakat dan potensi peserta didik, kemudian melakukan kolaborasi dengan
rekan guru dan orang tua, dilanjutkan dengan bimbingan
secara intensif sesuai
dengan kepemimpinan peserta
didik (student agency) yang
mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan. Akhir dari pembimbingan ini
penulis melakukan refleksi bersama dengan melihat kembali hal baik yang sudah
dilakukan dan memperbaiki pembimbingan yang perlu ditingkatkan kualitasnya.
2.
Sasaran
Sasaran pelaksanaan best practice ini
adalah peserta didik di SD Negeri Dempet 1 Kecamatan Dempet Kabupaten Demak
yang akan mengikuti berbagai kegiatan lomba dari tingkat
kecamatan hingga tingkat yang paling tinggi/ nasional.
3.
Materi Kegiatan
Materi kegiatan
yang digunakan dalam pendampingan menyesuaikan dengan event yang dilombakan sesuai juknis/ pedoman.
Berikut ini contoh materi di beberapa cabang lomba.
Tabel 2 Contoh materi
di beberapa cabang lomba
|
No |
Contoh Cabang lomba |
Materi |
|
FLS2N dan FL2N |
||
|
1 |
Menyanyi tunggal |
Beberapa lagu
pilihan |
|
2 |
Seni tari |
Sinopsis tari,
referensi tari, video
tari |
|
3 |
Pantomim |
Sinopsis pantomim, referensi pantomim, video pantomim |
|
4 |
Gambar bercerita |
Referensi gambar, teknik sket
dan pewarnaan |
|
5 |
Kriya anyam |
Referensi karya, teknik
menganyam, produk anak |
|
6 |
Mendongeng |
Referensi buku cerita rakyat |
4.
Cara Melaksanakan Kegiatan
Cara yang digunakan dalam pelaksanaan praktik baik ini adalah
menerapkan Strategi Mabar. Berikut adalah langkah-langkah pelaksanaan praktik
baik yang telah dilakukan penulis:
a.
Pemetaan
Langkah awal yang dilakukan pada saat pemetaan penulis melakukan tes
diagnostik. Tes awal ini dimanfaatkan untuk mengetahui kompetensi awal peserta
didik yang menjadi sasaran pembimbingan lomba. Siswa yang memiliki kompetensi
awal bagus menjadi aset pilihan lomba sesuai dengan kompetensinya. Pemetaan
berikutnya berkolaborasi dengan beberapa guru kelas untuk dimintai informasi
hasil belajar sebelumnya melalui rapor
atau data penilaian lainnya. Data profil
prestasi peserta didik sebelumnya juga menjadi bahan untuk memudahkan dalam
melakukan pembimbingan peserta didik.
b.
Kolaborasi
Setelah melakukan
pemetaan langkah berikutnya berkolaborasi dengan
teman sejawat. Kolaborasi ini untuk menentukan strategi pembimbingan yang tepat
sesuai dengan kepemimpinan peserta didik 12
c.
Bimbingan Intensif
Pembimbingan intensif dilakukan setelah ada kesepakatan belajar antara
guru pembimbing dengan peserta didik yang akan mengikuti lomba. Jadwal,
strategi, bahan, dan target pembimbingan menyesuaikan hasil pemetaan dan 3 hal
yang diperhatikan dalam mewujudkan kepemimpinan peserta didik. Peran guru pembimbing
disini sebagai mitra dan fasilitator belajar. Guru pembimbing harus komitmen dengan kesepakatan belajar
yang dibuat bersama
antara guru pembimbing dan
peserta didik. Selesai pembimbingan memberikan intrumen penilaian diri pada
peserta didik yang dibimbing, tugas guru memberikan umpan balik atas penilaian
tersebut. Guru pembimbing juga melakukan penilaian dengan instrument observasi selama kegiaan
pembimbingan berlangsung.
d.
Refleksi
Refleksi merupakan langkah terakhir yang dilakukan dalam pembimbingan
ini. Guru pembimbing dan peserta didik melakkan refleksi bersama. Refleksi
dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai model refleksi yang popular. Contoh
refleki seperti model segitiga refleksi dan refleksi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pengalaman yang
didapat, dan Perbaikan kedepan). Secara umum refleksi mencakup peristiwa
pengalaman belajar 13
5.
Media
dan Instrumen
Media dan alat yang
digunakan dalam pendampingan menyesuaikan dengan event yang dilombakan.
Instrumen yang digunakan dalam praktik baik ini ada 2 macam yaitu (a)
instrument untuk mengamati perkembangan peserta didik yang sedang dibimbing
berupa lembar observasi, dan (b) instrumen untuk menilai diri saat mendapatkan
pembimbingan dari guru dengan menggunakan lembar penilaian diri.
6.
Waktu
dan Tempat Kegiatan
Praktik ini dilaksanakan dari tahun 2019 hingga 2025 bertempat di SD Negeri Dempet 1 Kecamatan Dempet
Kabupaten Demak. Tahun 2019 merupakan awal penulis menjadi guru CPNS atau
bekerja di sekolah ini. Sedangkan tahun 2025 merupakan tahun terkini atau
kondisi real terakhir dalam mengimplementasikan strategi pembimbingan Mabar.
B.
Hasil
dan Pembahasan Masalah
1.
Hasil
Hasil yang dapat dilaporkan dari praktik baik ini diuraikan sebagai berikut:
a.
Pembimbingan dengan menerapkan strategi Mabar berlangsung aktif. Peserta
didik menjadi lebih aktif merespon
materi pembimbingan dari guru, termasuk mengajukan pertanyaan pada penulis
maupun guru pembimbing lainnya,
peserta didik termotivasi sehingga pembimbingan
berjalan maksimal dengan strategi Mabar karena sesuai dengan keinginan.
14
Pembimbingan yang dirancang sesuai
sintak pembimbing an dengan strategi Mabar yang
memberikan ruang peserta didik aktif selama proses pembimbingan.
|
14 |
Gambar. 1
Peserta didik aktif merespon materi
pembimbingan
b.
Pembimbingan dengan menerapkan strategi Mabar dapat meningkatkan prestasi peserta didik dalam berbagai
kegiatan even lomba baik FLS2N, FL2N,
KSN, KOSN, Kepramukaan, MAPSI maupun
cabang lomba insidentil lainnya. Dari penjelasan dan pemberian umpan balik guru, minat, motivasi, dan semangat meningkat pesat hal ini dapat
dilihat setiap pembimbingan peserta didik selalu hadir lebih awal beserta
membawa peralatannya. Strategi ini juga menjadikan peserta didik memahami
konsep secara menyeluruh, menumbuhkan daya ingat tinggi, dan memudahkan untuk
mempelajarinya kembali.
Gambar. 2 Peserta
didik semangat mengikuti
pembimbingan
15
Gambar. 3 Capaian
prestasi peserta didik meningkat
c.
Pembimbingan dengan menerapkan strategi Mabar meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berpikir
kritis. Hal ini dapat dilihat
dari antusias peserta didik
dalam menyampaikan hasil
refleksi. Serta berani mengungkapkan pengalaman belajar
secara cepat bila diberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil belajarnya. Peserta
didik selalu berpikir untuk
membuat hal-hal yang baru, mengembangkan pengalaman belajar, dan dapat
dijadikan acuan penyampaian pendapat
peserta didik di masa yang akan datang berdasarkan
filosofi belajar Ki Hajar Dewantara yaitu belajar sepanjang hayat.
Gambar. 4 Peserta didik antusias menyampaikan hasil refleksi
d.
Pembimbingan dengan menerapkan
strategi Mabar membuat pemahaman
materi peserta didik menjadi lebih maksimal, lebih cepat memahami materi, serta
penyampaian hasil pembimbangan lebih terarah
16
Gambar. 5 Pemahaman peserta didik lebih maksimal
Gambar. 6 Penyampaian hasil pembimbangan lebih terarah
e.
Pembimbingan dengan menerapkan strategi Mabar menjadikan prestasi peserta didik meningkat mulai dari
tingkat kecamatan hingga nasional. Peningkatan prestasi peserta didik dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3 Perkembangan Jumlah Prestasi Peserta
Didik
|
No |
Lomba |
Jumlah Event/ tahun |
Prestasi < 2019 |
Prestasi ≥ 2019 |
|
1 |
FLS2N |
5 cabang |
9 |
33 |
|
2 |
FL2N |
4 cabang |
0 |
18 |
|
3 |
MAPSI |
17 cabang |
10 |
26 |
|
4 |
KSN |
3 cabang |
3 |
14 |
|
5 |
POPDA |
17 cabang |
5 |
10 |
|
6 |
Kepramukaan |
6 cabang |
2 |
45 |
|
7 |
Lainnya |
13 cabang |
7 |
39 |
|
Jumlah |
65 cabang |
36 |
185 |
|
Sumber: Data penulis 2025
17
Tabel
4 Perkembangan Capaian
Level Prestasi Peserta
Didik
|
No |
Tahun |
Tingkat Kecamatan |
Tingkat Kabupaten |
Tingkat Provinsi |
Tingkat
Nasional |
Jumlah |
|
1 |
< 2019 |
34 |
2 |
0 |
0 |
36 |
|
2 |
≥ 2019 |
114 |
45 |
15 |
11 |
185 |
Sumber: Data penulis 2025
Berdasarkan tabel 3 di atas pembimbingan sebelum menggunakan strategi Mabar didapatkan jumlah prestasi peserta
didik sebanyak 36. Sedangkan hasil dari pembimbingan menggunakan strategi Mabar, prestasi yang diraih peserta
didik meningkat sangat signifikan menjadi 185.
Peningkatkan
prestasi dapat dilihat juga berdasarkan tabel 4 terkait capaian level prestasi
peserta didik dan didapatkan fakta bahwa pembimbingan sebelum menggunakan
strategi Mabar, kejuaraan di tingkat
kabupaten hanya 5% (2 kejuaraan), sedangkan prestasi selebihnya hanya di
tingkat kecamatan (95%), sebelum menggunakan strategi Mabar capaian prestasi peserta didik belum pernah berada di level
provinsi bahkan nasional. Berbeda hal nya ketika pembimbingan dilakukan
menggunakan strategi Mabar, capaian
level prestasi yang diraih peserta didik meningkat sangat signifikan yaitu 114
kejuaraan di tingkat kecamatan (62%), 45 kejuaraan di tingkat kabupaten (24%), 15
kejuaraan di tingkat provinsi (8%) dan 11 kejuaraan di tingkat nasional (6%).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa melalui pembimbingan strategi pembimbingan
dengan metode Mabar dapat
meningkatkan pestasi belajar peserta didik dalam mengikuti berbagai lomba. Peningkatan prstasi peserta didik dalam mengikuti lomba dalam diperjelas lagi dengan menggunakan diagram batang di bawah ini:
Gambar.
7 Diagram Perkembangan Prestasi
2.
Kendala yang Dihadapi
Masalah yang dihadapi
pertama adalah peserta didik belum terbiasa belajar dengan stategi
pembimbingan Mabar. Sehingga membuat guru dalam menjelaskan dan mengatur
alur pembimbingan membutuhkan tenaga yang ekstra. Peserta didik belum terbiasa dengan
strategi dan metode tersebut karena peserta didik terbiasa belajar dengan cara
paradigma lama.
Masalah lainnya
adalah guru belum mahir untuk memberikan ice breaking membimbing peserta didik
dengan Mabar, khususnya menuangkan dalam bentuk cerita, permainan, atau
nyanyian yan popular bagi anak. Bila ada perubahan juknis secara mendadak guru
sering merasa panik, kondisi demikian mempengaruhi psikologis belajar anak
pula.
3.
Cara Mengatasi Kendala
Membiasakan peserta didik belajar dengan strategi pembimbingan dengan Mabar.
Dengan pembiasaan tersebut peserta didik akan mahir membuatnya dan kedepannya
menjadikan peserta didik cepat memahami materi dan permasalahan, sekaligus
memudahkan untuk menyampaikan kembali materi yang sudah didapatnya.
Kekurangmampuan guru dalam mengimplementasikan strategi pembimbingan dengan Mabar dapat diatasi dengan
mengikuti perkembangan ice
breaking yang ada di internet. Setelah mendapatkan berbagai referensi untuk
menumbuhkan minat dan motivasi belajar peserta didik dapat dimanfaatkan untuk mengatasi tingkat
kejenuhan belajar. Untuk 19
4.
Faktor-Faktor Pendukung
Faktor pendukung dalam pelaksanaan kegiatan ini yaitu adanya dukungan
dari berbagai pihak seperti faktor-faktor di bawah ini:
a.
Kemampuan penulis dalam
berinovasi, melakukan pemetaan, kolaborasi, menuntun dan merefleksi
Kemampuan penulis
dalam berinovasi mengembangkan pola pembinaan yang
berpihak pada peserta didik dengan menerapkan strategi Mabar menjadi salah satu
faktor pendukung berjalannnya kegiatan ini. Penulis terus memberikan tuntunan
yang berimbas pada peningkatan prestasi peserta didik dalam kegiatan pembinaan lomba di SD Negeri
Dempet 1.
b.
Dukungan orang tua
Orang tua sangat mendukung penuh kegiatan, karena kegiatan tidak
terpancang waktu, bisa dilaksanakan kapanpun dan dimanapun, orangtua senang
dapat menyaksikan kreativitas dan tanggung jawab anaknya yang menjadi lebih
baik dan diunggah di sosial media sekolah. Orang tua juga tidak segan untuk
memberikan bantuan sukarela terkait kelancaran setiap kegiatan yang diikuti oleh putra
putrinya.
c.
Dukungan Kepala Sekolah
Kepala sekolah SD Negeri Dempet
1 sangat mendukung kegiatan ini baik secara moril maupun materiil, kepala
sekolah memberikan kelonggaran dalam penyusunan RAPBS terkait dengan kegiatan
siswa sehingga kebutuhan selama kegiatan terpenuhi dengan baik.
5.
Alternatif
Pengembangan
Peningkatan prestasi peserta
didik dengan menerapkan strategi
Mabar ini akan terus dikembangkan, salah satu alternatif pengembangan yang
akan penulis lakukan adalah dengan
melakukan kolaborasi dengan berbagai
pihak yang lebih berkompeten untuk diajak memajukan sekolah.
20
BAB
IV
SIMPULAN
DAN REKOMENDASI
A. Simpulan
Berdasarkan uraian di atas, implementasi Strategi
Mabar di SD Negeri Dempet 1 dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.
Langkah-Langkah Penerapan Strategi Mabar
Langkah-langkah penerapan Strategi Mabar
(Pemetaan, Kolaborasi, Bimbingan Intensif, dan Refleksi) dilaksanakan secara
sistematis. Proses diawali dengan pemetaan potensi siswa melalui tes diagnostik
dan data rapor. Dilanjutkan dengan kolaborasi bersama rekan guru untuk
merumuskan strategi yang mengedepankan kepemimpinan peserta didik (Student
Agency), yang meliputi Voice, Choice, dan Ownership.
Kemudian dilakukan bimbingan intensif berdasarkan kesepakatan belajar, di mana
guru berperan sebagai mitra dan fasilitator. Langkah terakhir adalah refleksi
bersama guru dan peserta didik (menggunakan model Refleksi 4P) untuk
menumbuhkan motivasi intrinsik dan perbaikan berkelanjutan.
2.
Hasil atau Dampak Penerapan Strategi Mabar
Penerapan Strategi Mabar menghasilkan
peningkatan prestasi peserta didik yang sangat signifikan di SD Negeri Dempet
1.
a.
Kuantitas Prestasi: Jumlah kejuaraan meningkat
dari 36 (sebelum 2019) menjadi 185 (sejak 2019 sampai 2025).
b.
Level Prestasi: Capaian di tingkat kabupaten ke
atas meningkat drastis. Sebelum Mabar, hanya 5% (2 kejuaraan) di tingkat
kabupaten. Setelah Mabar, capaian level prestasi adalah 62% di tingkat
kecamatan, 24% di tingkat kabupaten, 8% di tingkat provinsi, dan 6% di tingkat
nasional.
c. Dampak Kualitatif: Siswa menjadi lebih aktif, termotivasi, mampu berpikir kritis, pemahaman materi lebih maksimal, dan penyampaian hasil pembimbingan menjadi lebih terarah.
3.
Kendala
dalam Penerapan Strategi Mabar
|
|
Kendala utama meliputi: (a) Peserta didik
belum terbiasa dengan strategi Mabar (paradigma lama) sehingga memerlukan
energi ekstra dari guru, dan (b) Kekurangmampuan guru dalam memberikan ice
breaking atau menghadapi perubahan juknis secara mendadak, yang memengaruhi
psikologis belajar anak.
4.
Faktor Pendukung Penerapan Strategi Mabar
Faktor-faktor pendukung kunci adalah: (a)
Kemampuan inovasi penulis (guru) dalam mengembangkan dan mengimplementasikan
strategi Mabar yang berpihak pada siswa, (b) Dukungan penuh orang tua yang
tidak terikat waktu dan bersedia memberikan bantuan sukarela, dan (c) Dukungan kepala
sekolah secara moril dan materiil, termasuk kelonggaran dalam penyusunan RAPBS
untuk kegiatan siswa.
5.
Alternatif Pengembangan Strategi Mabar
Alternatif pengembangan yang akan
dilakukan adalah melakukan kolaborasi lebih lanjut dengan berbagai pihak yang
lebih berkompeten untuk memajukan sekolah. Selain itu, penulis berencana
melakukan "Sharing Session" untuk mengajak guru lain
menerapkan Strategi Mabar dalam pembinaan peserta didik guna mencapai prestasi
tertinggi sesuai minat, bakat, dan potensi mereka.
B. Rekomendasi
Berdasarkan hasil praktik baik Strategi
Mabar, berikut disampaikan rekomendasi yang relevan:
1. Guru seharusnya tidak hanya membimbing peserta didik yang akan mengikuti lomba, hanya mengejar target dan mengesampingkan proses, tetapi berani melakukan inovasi pembimbingan yang kontekstual sesuai dengan latar belakang peserta didik dan situasi dan kondisi sekolahnya. Hal ini akan membuat pembimbingan lebih bermakna.
2.
23
3.
Sekolah, terutama kepala sekolah dapat mendorong guru lain
untuk ikut melaksanakan strategi pembimbingan Mabar. Dukungan positif sekolah, seperti penyediaan sarana dan
prasarana yang memadai dan kesempatan bagi penulis utuk mendesiminasikan
praktik baik ini akan menambah wawasan guru lain tentang
metode dan model pembimbingan.
4.
Penulis, strategi pembimbingan Mabar akan penulis dijadikan penelitian pada materi dan mata pelajaran
yang lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
A S Hornby. 2010. Oxford Advanced Learner's Dictionary of Current English.
New York: Oxford University Press.
Depdikbud. 2003. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta : Balai
Pustaka. Fandy, Tjiptono. 2011. Pemasaran
Jasa. Malang: Bayumedia.
Kusumadmo, E. 2013. Manajemen Strategik Pengetahuan. Yogyakarta: Cahaya.
Atma Pustaka.
Kemendikbud. 2020. Program Guru Penggerak Modul 3.3 Pengelolaan
Program Yang Berdampak Positif Pada Murid (Kepemimpinan Murid). Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 14 Tahun 2005. Tentang Guru dan
Dosen. Jakarta: Depdiknas RI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar