Rabu, 12 November 2025

BEST PRACTICE - STRATEGI MABAR UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI PESERTA DIDIK DI SD NEGERI DEMPET 1

 ABSTRAK

Penulisan best practice ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah- Langkah, hasil atau dampak, kendala, faktor pendukung serta alternatif pengembangan dari penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1. Kegiatan praktik baik ini dilaksanakan mulai tahun 2019 sampai 2025. Metode yang digunakan dalam best practice ini adalah Mabar. Mabar merupakan akronim dari pemetaan, kolaborasi, bimbingan intensif dan refleksi. Kegiatan ini mengutamakan kepemimpinan peserta didik (student agency) yang mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan. Hasil yang diperoleh sebelum penerapan strategi Mabar adalah rendahnya prestasi yang diraih peserta didik, sedangkan setelah penerapan strategi Mabar maka prestasi peserta didik di SD Negeri Dempet 1 menunjukkan peningkatan yang signifikan baik dari kuantitas maupun level prestasinya. Sebelumnya hanya 36 kejuaraan menjadi 185 kejuaraan. Sebelum pembimbingan menggunakan strategi Mabar, kejuaraan di tingkat kabupaten 5% dan sisanya hanya di tingkat kecamatan (95%). Namun setelah pembimbingan dilakukan menggunakan strategi Mabar, capaian level prestasi meningkat sangat signifikan yaitu 62% di tingkat kecamatan, 24% di tingkat kabupaten, 8% di tingkat provinsi dan 6% di tingkat nasional.

 Kata kunci: Strategi, Mabar, Prestasi Peserta Didik

 

The writing of this best practice aims to describe the steps, results or impact, constraints, supporting factors, and alternative developments of implementing the Mabar Strategy to Enhance Student Achievement at SD Negeri Dempet 1. This best practice activity was implemented from 2019 to 2025. The method used in this best practice is Mabar. Mabar is an acronym for Pemetaan (Mapping), Kolaborasi (Collaboration), Bimbingan Intensif (Intensive Guidance), and Refleksi (Reflection). This activity prioritizes student agency, which promotes voice, choice, and ownership. The result obtained before the implementation of the Mabar strategy was the low achievement secured by students, whereas after the implementation of the Mabar strategy, student achievement at SD Negeri Dempet 1 showed a significant increase in both quantity and level of achievement. Previously, there were only 36 championships, which increased to 185 championships. Before guidance using the Mabar strategy, only 5% of the championships were at the district level, with the rest only at the sub-district level (95%). However, after guidance was conducted using the Mabar strategy, the level of achievement increased significantly: 62% at the sub-district level, 24% at the district level, 8% at the provincial level, and 6% at the national level.

Keyword: Strategy, Mabar, Student Achievement


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

Menurut UU No. 14 Tahun 2015 tentang guru dan dosen, salah satu tugas pokok dan fungsi guru adalah melakukan pembimbingan terhadap peserta didik meliputi pembimbingan bakat, minat dan prestasi.

Pembimbingan dilakukan untuk membantu kesulitan belajar peserta didik dan memberi tuntunan terhadap segala potensi sesuai kodratnya agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia ataupun sebagai anggota masyarakat. Hal ini sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantoro.

Berdasarkan pemikiran di atas, SD Negeri Dempet 1 mempunyai harapan agar dapat mewujudkan prestasi peserta didik sesuai minat, bakat dan potensinya. Hal ini sesuai dengan visi sekolah yaitu “Terwujudnya Warga Sekolah Yang Bermutu, Berakhlak Mulia, Kreatif, Mandiri, Bertanggungjawab, Menguasai Teknologi, Cinta Seni Dan Lingkungan”.

Selain itu, orang tua menaruh harapan besar pada sekolah agar putra putrinya bisa unggul di berbagai cabang lomba. Pemikiran ini wajar mengingat kondisi geografis dan ekonomi di lingkungan sekolah sangat mendukung, sebagian besar orang tua berpendidikan dan berpenghasilan tinggi.

Alasan orang tua menyekolahkan di SD Negeri Dempet 1, karena sekolah ini dulu pernah menjadi sekolah favorit. Sekolah ini juga pernah dipercaya menjadi sekolah gugus/ SD inti yang menjadi percontohan bagi sekolah lain/ SD imbas di wilayah Kecamatan Dempet. Sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan saat itu juga patut diperhitungkan. Ada yang menjadi narasumber dan aktif di berbagai kegiatan pendidikan. Pembimbingan dan ekstrakurikuler pada saat itu sangat maju. Banyak sekolah yang melakukan study banding untuk melihat kegiatan pembimbingan di sekolah ini, sehingga menjadi inspirasi sekolah dari gugus lain.



2

Namun kenyataannya, kondisi sejak penulis diangkat menjadi CPNS di SD Negeri Dempet 1 pada tahun 2019, capaian prestasi sekolah masih rendah, setiap ada kegiatan lomba baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten tidak mendapatkan hasil yang menggembirakan. Hal ini dapat dilihat dari catatan prestasi sekolah. Dalam waktu 3 tahun terakhir, SD Negeri Dempet 1 hanya memperoleh antara 16% - 29% kejuaraan dari sekitar 65 cabang lomba setiap tahunnya.

Berikut ini data kondisi awal capaian prestasi SD Negeri Dempet 1 dalam 3 tahun terakhir sebelum penulis ditugaskan.

Tabel 1 Kondisi awal capaian prestasi SD Negeri Dempet 1 dalam 3 tahun terakhir sebelum penulis ditugaskan

 

No

Tahun

Cabang lomba

Jumlah

FLS2N

(5 cabang)

FL2N

(4 cabang)

MAPSI

(17 cabang)

KSN

(3 cabang)

POPDA

(17 cabang)

Kepramukaan

(6 cabang)

Cabang

lainnya

1

2016

2

0

4

0

2

0

3

11

2

2017

3

0

0

0

1

2

3

9

3

2018

4

0

6

3

2

0

1

16

 Berdasarkan data di atas, prestasi peserta didik hanya 5% yang mencapai tingkat kabupaten (2 kejuaraan yaitu juara 1 keterampilan adzan lomba MAPSI dan juara 2 KSN IPA di tahun 2018), selebihnya 95% kejuaraan yang diraih hanya di tingkat kecamatan. Rendahnya capaian prestasi tersebut disebabkan adanya pola pembimbingan yang kurang maksimal dan tidak terprogram dengan baik. Pembimbingan hanya bersifat spontan setiap akan mengikuti lomba. Strategi yang digunakan monoton, hanya melakukan drill kepada peserta didik yang akan mengikuti lomba tanpa memperhatikan minat dan psikologi anak. Disamping itu peserta didik hanya diberikan beberapa paket soal, materi atau keterampilan yang harus dihafalkan dan diselesaikan dalam waktu tertentu tanpa diberikan umpan balik atau pembimbingan secara intensif. Peserta didik juga tidak diberikan kesempatan untuk menyuarakan suara, pilihan dan kepemilikannya.

 Data di atas didapat berdasarkan hasil wawancara penulis dengan kepala sekolah, guru pembimbing dan peserta didik. Kepala sekolah menyampaikan bahwa berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi tahunan didapatkan fakta bahwa pola pembimbingan yang dilakukan guru kurang optimal karena kesibukan di luar dinas. Pembimbingan kurang instensif serta tidak melakukan pemetaan potensi peserta didik. Hal ini senada dengan yang disampaikan guru pembimbing, mereka sebagian besar kesulitan dalam melakukan pemetaan peserta didik. Pembimbingan dilakukan kurang optimal yakni hanya memberikan beberapa paket paket soal, materi atau keterampilan yang harus dihafalkan dan diselesaikan dalam waktu tertentu tanpa diberikan umpan balik atau pembimbingan secara intensif. Guru pembimbing mengakui banyak disibukkan oleh kegiatan di luar dinas mengingat sebagian besar adalah pegawai NON ASN. Demikian hal nya yang dirasakan peserta didik saat pembimbingan lomba. Sebagian besar merasakan bosan. Karena hanya di drill materi dan soal dalam waktu tertentu. Peserta didik merasa terbebani dengan target tinggi namun tidak dibimbing sesuai dengan keinginan dan perasaan mereka.

Masalah ini tentunya harus segera diatasi untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. Sekolah harus bisa mengembalikan marwah sekolah bisa kembali unggul dalam prestasi dan karakter. Maka perlu strategi yang tepat untuk melakukan pembimbingan yang tidak hanya dilakukan secara individu, membuat peserta didik menjadi bosan, teknik yang monoton, dan tanpa pemetaan yang tepat. Penulis memliki gagasan untuk melakukan pembimbingan yang mengedepankan kepemimpinan peserta didik (student agency) dimana suara peserta didik didengarkan (voice), memperhatikan setiap pilihan peserta didik dalam melakukan pembimbingan (choice), serta menumbuhkan kepemilikan peserta didik (ownership). Ketika peserta didik terhubung secara fisik, kognitif, atau sosial emosional dengan yang sedang dipelajari, turut terlibat aktif serta menunjukkan minat dalam proses belajarnya, maka ia akan merasa 'memiliki' proses belajarnya.

 Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk menerapkan “Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1”. Mabar merupakan akronim dari pemetaan, kolaborasi, bimbingan intensif dan refleksi.

 

B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, rumusan masalah dalam best practice ini adalah sebagai berikut:

1.   Bagaimanakah langkah-langkah penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1?

2.   Bagaimanakah hasil atau dampak dari penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1?

3.   Bagaimanakah kendala dari penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1?

4.   Bagaimanakah faktor pendukung dari penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1?

5.   Bagaimanakah alternatif pengembangan dari penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1?

C.  Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari best practice ini adalah:

1.   Mendeskripsikan langkah-langkah penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1.

2.   Mendeskripsikan hasil atau dampak dari penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1.

3.   Mendeskripsikan kendala dari penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1.

4.   Mendeskripsikan faktor pendukung dari penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1.

5.   Mendeskripsikan alternatif pengembangan dari penerapan Strategi Mabar Untuk Meningkatkan Prestasi Peserta Didik di SD Negeri Dempet 1.

D. 

5

Manfaat

Manfaat dari penulisan best practice ini adalah:

1.   Bagi guru, penulisan best practice ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pembinaan peserta didik dengan tujuan agar prestasi dapat meningkat.

2.   Bagi peserta didik, sebagai sarana dalam proses meningkatkan prestasi.

3.   Bagi komunitas belajar, sebagai bahan informasi bagi guru yang akan mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan dan hal-hal yang berkaitan dengannya.

4.   Bagi sekolah, sebagai sarana peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A.  Kajian Pustaka

Penulisan best practice ini menguraikan tentang (1) Strategi, (2) Mabar, dan (3) Prestasi Peserta Didik.

1.   Strategi

Strategi secara etimologis itu berasal dari kata Strategos yang dalam bahasa yunani terbentuk dari kata stratos atau tentara dan ego atau pemimpin. Sedangkan dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionaries (2010) menyatakan bahwa Strategy (noun) : a plan of action designed to achieve a long-term or overall aim. Yang artinya rencana aksi yang dirancang untuk mencapai jangka panjang atau tujuan secara keseluruhan (Kusumadmo, 2013).

Menurut Tjiptono (2011) strategi merupakan sekumpulan cara dari keseluruhan yang berkaitan dengan pelaksanaan gagasan, sebuah rencana dalam kurun waktu yang sudah ditentukan. Hal ini sependapat dengan Anthony, Parrewe, dan Kacmar (2013) yang menyatakan bahwa strategi adalah sebagai formulasi misi dan tujuan organisasi, termasuk didalamnya adalah rencana aksi untuk mencapai tujuan dengan secara eksplisit mempertimbangkan kondisi persaingan dan pengaruh kekuatan dari luar organisasi yang secara langsung atau tidak berpengaruh terhadap kelangsungan organisasi.

Berdasarkan definisi strategi menurut arti bahasa yang digunakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa strategi adalah suatu rencana jangka panjang yang disusun untuk menghantarkan pada suatu pencapaian akan tujuan dan sasaran tertentu.

2.   Mabar

6

Mabar yang penulis maksud yaitu singkatan dari pemetaan, kolaborasi, bimbingan intensif dan refleksi yakni sebuah inovasi pembinaan peserta didik yang mengedepankan kepemimpinan (student agency).

 

7

Dimana saat peserta didik menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan saat peserta didik memiliki agency), maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Melalui suara, pilihan, dan kepemilikan inilah peserta didik kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri. Maka tugas kita sebagai guru yaitu hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya dimana peserta didik memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan di setiap apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka ingin tetapkan, bagaimana berupaya melaksanakan niat mereka, serta bagaimana merefleksikan tindakan mereka. Langkah-langkah pemanfaatan strategi Mabar yaitu :

a.   Penulis selaku guru pembimbing melakukan pemetaan kepada peserta didik sebagai langkah awal untuk mengetahui kompetensi awal peserta didik melalui tes diagnostik.

b.   Penulis selaku guru pembimbing melakukan kolaborasi dengan teman sejawat untuk menentukan strategi pembimbingan yang tepat sesuai dengan kepemimpinan peserta didik (student agency).

c.   Penulis selaku guru pembimbing melakukan bimbingan intensif setelah ada kesepakatan belajar antara guru pembimbing dengan peserta didik yang akan mengikuti lomba. Peran guru pembimbing disini sebagai mitra dan fasilitator belajar.

d.   Penulis selaku guru pembimbing melakukan refleksi dengan menggunakan berbagai model refleksi yang popular. Contoh refleki seperti model segitiga refleksi maupun refleksi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pengalaman yang didapat, dan Perbaikan kedepan).

Dibandingkan dengan pola pembinaan lainnya, strategi Mabar memiliki beberapa keunggulan yang penulis singkat dengan VCO, yaitu:

a.   Voice (mendengarkan suara peserta didik), mempertimbangkan suara peserta didik adalah tentang bagaimana kita memberdayakan mereka agar memiliki kekuatan untuk mempengaruhi perubahan. Peserta didik

8

diberikan kesempatan untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai. Suara peserta didik dapat  ditumbuhkan melalui diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif, memberi pendapat, kemudian merelevansikan.

b.   Choice (memperhatikan setiap pilihan peserta didik dalam melakukan pembimbingan), peserta didik dibebaskan memilih kesempatan- kesempatan dalam ranah sosial, lingkungan, dan pembelajaran. Dalam ranah sosial, peserta didik diberikan kesempatan untuk berada dalam kelompok yang sesuai dengan tujuan/ minatnya; dalam ranah lingkungan, peserta didik diberikan kesempatan untuk memilih/ mengatur tempat belajar yang sesuai. Dalam ranah lingkungan, peserta didik diberikan kesempatan untuk memilih lingkungan belajar yang paling mendukung untuk mereka belajar secara maksimal. Sedangkan dalam ranah pembelajaran, peserta didik diberikan pilihan untuk mengakses, berlatih, atau membuktikan penguasaan pengetahuan atau keterampilan dalam kurikulum. Bandura (1997) menegaskan pula bahwa memberikan peserta didik pilihan juga akan meningkatkan motivasi dan otonomi peserta didik, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi diri setiap peserta didik (dalam Thibodeaux et al, 2019).

c.   Ownership (serta berusaha menumbuhkan kepemilikan peserta didik), guru dapat memberikan peserta didik kesempatan untuk memilih beberapa kegiatan yang mereka lakukan (misalnya memilih cerita rakyat untuk lomba mendongeng atau melakukan ujian SKK dan SKU saat kegiatan kepramukaan). Selain itu, guru juga memberikan peserta didik kesempatan untuk menilai diri sendiri dan terlibat dalam proses penilaian (misalnya, melibatkan peserta didik dalam mendiskusikan rancangan pentas budaya yang menarik dan inovatif).

3.   Prestasi Peserta Didik

Prestasi peserta didik adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan/ dikerjakan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003: 895).

9

Prestasi peserta didik itu sendiri juga merupakan hasil yang dicapai sebaik- baiknya pada seorang anak dalam pendidikan baik yang dikerjakan atau bidang keilmuan. Prestasi peserta didik dari siswa adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa yang didapat dari proses pembelajaran yang bermakna.

7

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

                     

A.  Metode dan Pelaksanaan

1.   Metode

Metode yang digunakan dalam best practice ini adalah Mabar. Mabar merupakan akronim dari pemetaan, kolaborasi, bimbingan intensif dan refleksi. Penulis menggunakan Mabar karena dalam melakukan pembimbingan diawali dengan pemetaan minat, bakat dan potensi peserta didik, kemudian melakukan kolaborasi dengan rekan guru dan orang tua, dilanjutkan dengan bimbingan secara intensif sesuai dengan kepemimpinan peserta didik (student agency) yang mempromosikan suara, pilihan dan kepemilikan. Akhir dari pembimbingan ini penulis melakukan refleksi bersama dengan melihat kembali hal baik yang sudah dilakukan dan memperbaiki pembimbingan yang perlu ditingkatkan kualitasnya.

2.   Sasaran

Sasaran pelaksanaan best practice ini adalah peserta didik di SD Negeri Dempet 1 Kecamatan Dempet Kabupaten Demak yang akan mengikuti berbagai kegiatan lomba dari tingkat kecamatan hingga tingkat yang paling tinggi/ nasional.

3.   Materi Kegiatan

Materi kegiatan yang digunakan dalam pendampingan menyesuaikan dengan event yang dilombakan sesuai juknis/ pedoman. Berikut ini contoh materi di beberapa cabang lomba.

 

Tabel 2 Contoh materi di beberapa cabang lomba

No

Contoh Cabang lomba

Materi

FLS2N dan FL2N

1

Menyanyi tunggal

Beberapa lagu pilihan

2

Seni tari

Sinopsis tari, referensi tari, video tari

3

Pantomim

Sinopsis pantomim, referensi pantomim,

video pantomim

4

Gambar bercerita

Referensi gambar, teknik sket dan

pewarnaan

5

Kriya anyam

Referensi karya, teknik menganyam,

produk anak

6

Mendongeng

Referensi buku cerita rakyat

 

4.   Cara Melaksanakan Kegiatan

 Cara yang digunakan dalam pelaksanaan praktik baik ini adalah menerapkan Strategi Mabar. Berikut adalah langkah-langkah pelaksanaan praktik baik yang telah dilakukan penulis:

a.   Pemetaan

Langkah awal yang dilakukan pada saat pemetaan penulis melakukan tes diagnostik. Tes awal ini dimanfaatkan untuk mengetahui kompetensi awal peserta didik yang menjadi sasaran pembimbingan lomba. Siswa yang memiliki kompetensi awal bagus menjadi aset pilihan lomba sesuai dengan kompetensinya. Pemetaan berikutnya berkolaborasi dengan beberapa guru kelas untuk dimintai informasi hasil belajar sebelumnya melalui rapor atau data penilaian lainnya. Data profil prestasi peserta didik sebelumnya juga menjadi bahan untuk memudahkan dalam melakukan pembimbingan peserta didik.

b.   Kolaborasi

Setelah melakukan pemetaan langkah berikutnya berkolaborasi dengan teman sejawat. Kolaborasi ini untuk menentukan strategi pembimbingan yang tepat sesuai dengan kepemimpinan peserta didik

12

(student agency). Penulis bekerja sama dengan teman sejawat menindaklanjuti suara, pilihan, dan kepemilkan peserta didik. Penulis sebagai pembimbing peserta didik yang akan mengikuti lomba memperhatikan catatan suara yang diinginkan peserta didik selama pembimbingan mendengarkan teknik pembimbingan yang diinginkan, mendengarkan situasi yang diinginkan dalam pembimbingan, dan mendenganrkan suara dalam menentukan jadwal pembimbingan. Penulis memberikan kesempatan pesera didik untuk menentukan pilihan-pilihan strategi yang ditawarkan oleh guru pembimbing. Kemudian bersama-sama melaksanakan pembimbingan berdasarkan kemitraan atau kesetaran. Sehingga peserta didik saat pelaksanaan pemimbingan merasa nyaman dan enjoy.

c.   Bimbingan Intensif

Pembimbingan intensif dilakukan setelah ada kesepakatan belajar antara guru pembimbing dengan peserta didik yang akan mengikuti lomba. Jadwal, strategi, bahan, dan target pembimbingan menyesuaikan hasil pemetaan dan 3 hal yang diperhatikan dalam mewujudkan kepemimpinan peserta didik. Peran guru pembimbing disini sebagai mitra dan fasilitator belajar. Guru pembimbing harus komitmen dengan kesepakatan belajar yang dibuat bersama antara guru pembimbing dan peserta didik. Selesai pembimbingan memberikan intrumen penilaian diri pada peserta didik yang dibimbing, tugas guru memberikan umpan balik atas penilaian tersebut. Guru pembimbing juga melakukan penilaian dengan instrument observasi selama kegiaan pembimbingan berlangsung.

d.   Refleksi

Refleksi merupakan langkah terakhir yang dilakukan dalam pembimbingan ini. Guru pembimbing dan peserta didik melakkan refleksi bersama. Refleksi dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai model refleksi yang popular. Contoh refleki seperti model segitiga refleksi dan refleksi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pengalaman yang didapat, dan Perbaikan kedepan). Secara umum refleksi mencakup peristiwa pengalaman belajar

13

yang dialami selama kegiatan pembimbingan. Materi yang sudah mampu dikuasai maupun materi yang belum dikuasai peserta didik. Peserta didik menyampaikan perasaan dan kondisi psikologis yang dirasakan selama pembimbingan. Nilai rasa dalam pembimbingan sangat penting diketahui guru pembimbing karena bisa menumbuhkan motivasi instrinsik pada diri peserta didik untuk mewujudkan impiannya. Perbaikan kedepan memberikan konsekueansi untuk memperbaiki belajar sebelumnya yang masih ditingkatkan kalitasnya.

5.   Media dan Instrumen

Media dan alat yang digunakan dalam pendampingan menyesuaikan dengan event yang dilombakan. Instrumen yang digunakan dalam praktik baik ini ada 2 macam yaitu (a) instrument untuk mengamati perkembangan peserta didik yang sedang dibimbing berupa lembar observasi, dan (b) instrumen untuk menilai diri saat mendapatkan pembimbingan dari guru dengan menggunakan lembar penilaian diri.

6.   Waktu dan Tempat Kegiatan

Praktik ini dilaksanakan dari tahun 2019 hingga 2025 bertempat di SD Negeri Dempet 1 Kecamatan Dempet Kabupaten Demak. Tahun 2019 merupakan awal penulis menjadi guru CPNS atau bekerja di sekolah ini. Sedangkan tahun 2025 merupakan tahun terkini atau kondisi real terakhir dalam mengimplementasikan strategi pembimbingan Mabar.

 

B.  Hasil dan Pembahasan Masalah

1.   Hasil

 Hasil yang dapat dilaporkan dari praktik baik ini diuraikan sebagai berikut:

a.   Pembimbingan dengan menerapkan strategi Mabar berlangsung aktif. Peserta didik menjadi lebih aktif merespon materi pembimbingan dari guru, termasuk mengajukan pertanyaan pada penulis maupun guru pembimbing lainnya, peserta didik termotivasi sehingga pembimbingan berjalan maksimal dengan strategi Mabar karena sesuai dengan keinginan.

14

Pembimbingan yang dirancang sesuai sintak pembimbing an dengan strategi Mabar yang memberikan ruang peserta didik aktif selama proses pembimbingan.

Gambar. 1 Peserta didik aktif merespon materi pembimbingan

b.   Pembimbingan dengan menerapkan strategi Mabar dapat meningkatkan prestasi peserta didik dalam berbagai kegiatan even lomba baik FLS2N, FL2N, KSN, KOSN, Kepramukaan, MAPSI maupun cabang lomba insidentil lainnya. Dari penjelasan dan pemberian umpan balik guru, minat, motivasi, dan semangat meningkat pesat hal ini dapat dilihat setiap pembimbingan peserta didik selalu hadir lebih awal beserta membawa peralatannya. Strategi ini juga menjadikan peserta didik memahami konsep secara menyeluruh, menumbuhkan daya ingat tinggi, dan memudahkan untuk mempelajarinya kembali.

Gambar. 2 Peserta didik semangat mengikuti pembimbingan

15

 

Gambar. 3 Capaian prestasi peserta didik meningkat

c.   Pembimbingan dengan menerapkan strategi Mabar meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis. Hal ini dapat dilihat dari antusias peserta didik dalam menyampaikan hasil refleksi. Serta berani mengungkapkan pengalaman belajar secara cepat bila diberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil belajarnya. Peserta didik selalu berpikir untuk membuat hal-hal yang baru, mengembangkan pengalaman belajar, dan dapat dijadikan acuan penyampaian pendapat peserta didik di masa yang akan datang berdasarkan filosofi belajar Ki Hajar Dewantara yaitu belajar sepanjang hayat.

Gambar. 4 Peserta didik antusias menyampaikan hasil refleksi

d.   Pembimbingan dengan menerapkan strategi Mabar membuat pemahaman materi peserta didik menjadi lebih maksimal, lebih cepat memahami materi, serta penyampaian hasil pembimbangan lebih terarah

16

 


Gambar. 5 Pemahaman peserta didik lebih maksimal

Gambar. 6 Penyampaian hasil pembimbangan lebih terarah

e.   Pembimbingan dengan menerapkan strategi Mabar menjadikan prestasi peserta didik meningkat mulai dari tingkat kecamatan hingga nasional. Peningkatan prestasi peserta didik dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3 Perkembangan Jumlah Prestasi Peserta Didik

No

Lomba

Jumlah Event/

tahun

Prestasi < 2019

Prestasi 2019

1

FLS2N

5 cabang

9

33

2

FL2N

4 cabang

0

18

3

MAPSI

17 cabang

10

26

4

KSN

3 cabang

3

14

5

POPDA

17 cabang

5

10

6

Kepramukaan

6 cabang

2

45

7

Lainnya

13 cabang

7

39

Jumlah

65 cabang

36

185

Sumber: Data penulis 2025

17

 


Tabel 4 Perkembangan Capaian Level Prestasi Peserta Didik

 

No

Tahun

Tingkat Kecamatan

Tingkat Kabupaten

Tingkat Provinsi

Tingkat Nasional

Jumlah

1

< 2019

34

2

0

0

36

2

2019

114

45

15

11

185

Sumber: Data penulis 2025

 

Berdasarkan tabel 3 di atas pembimbingan sebelum menggunakan strategi Mabar didapatkan jumlah prestasi peserta didik sebanyak 36. Sedangkan hasil dari pembimbingan menggunakan strategi Mabar, prestasi yang diraih peserta didik meningkat sangat signifikan menjadi 185.

Peningkatkan prestasi dapat dilihat juga berdasarkan tabel 4 terkait capaian level prestasi peserta didik dan didapatkan fakta bahwa pembimbingan sebelum menggunakan strategi Mabar, kejuaraan di tingkat kabupaten hanya 5% (2 kejuaraan), sedangkan prestasi selebihnya hanya di tingkat kecamatan (95%), sebelum menggunakan strategi Mabar capaian prestasi peserta didik belum pernah berada di level provinsi bahkan nasional. Berbeda hal nya ketika pembimbingan dilakukan menggunakan strategi Mabar, capaian level prestasi yang diraih peserta didik meningkat sangat signifikan yaitu 114 kejuaraan di tingkat kecamatan (62%), 45 kejuaraan di tingkat kabupaten (24%), 15 kejuaraan di tingkat provinsi (8%) dan 11 kejuaraan di tingkat nasional (6%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa melalui pembimbingan strategi pembimbingan dengan metode Mabar dapat meningkatkan pestasi belajar peserta didik dalam mengikuti berbagai lomba. Peningkatan prstasi  peserta didik dalam mengikuti lomba dalam diperjelas lagi dengan menggunakan diagram batang di bawah ini:

 

 

 

18

Gambar. 7 Diagram Perkembangan Prestasi

 

2.   Kendala yang Dihadapi

Masalah yang dihadapi pertama adalah peserta didik belum terbiasa belajar dengan stategi pembimbingan Mabar. Sehingga membuat guru dalam menjelaskan dan mengatur alur pembimbingan membutuhkan tenaga yang ekstra. Peserta didik belum terbiasa dengan strategi dan metode tersebut karena peserta didik terbiasa belajar dengan cara paradigma lama.

Masalah lainnya adalah guru belum mahir untuk memberikan ice breaking membimbing peserta didik dengan Mabar, khususnya menuangkan dalam bentuk cerita, permainan, atau nyanyian yan popular bagi anak. Bila ada perubahan juknis secara mendadak guru sering merasa panik, kondisi demikian mempengaruhi psikologis belajar anak pula.

3.   Cara Mengatasi Kendala

Membiasakan peserta didik belajar dengan strategi pembimbingan dengan Mabar. Dengan pembiasaan tersebut peserta didik akan mahir membuatnya dan kedepannya menjadikan peserta didik cepat memahami materi dan permasalahan, sekaligus memudahkan untuk menyampaikan kembali materi yang sudah didapatnya.

Kekurangmampuan guru dalam mengimplementasikan strategi pembimbingan dengan Mabar dapat diatasi dengan mengikuti perkembangan ice breaking yang ada di internet. Setelah mendapatkan berbagai referensi untuk menumbuhkan minat dan motivasi belajar peserta didik dapat dimanfaatkan untuk mengatasi tingkat kejenuhan belajar. Untuk

19

mengatasi kepanikan ketika ada perubahan juknis guru perlu mengembangkan kompetensi sosial emosional seperti menumbuhkan kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, interaksi sosial, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

4.   Faktor-Faktor Pendukung

Faktor pendukung dalam pelaksanaan kegiatan ini yaitu adanya dukungan dari berbagai pihak seperti faktor-faktor di bawah ini:

a.   Kemampuan penulis dalam berinovasi, melakukan pemetaan, kolaborasi, menuntun dan merefleksi

Kemampuan penulis dalam berinovasi mengembangkan pola pembinaan yang berpihak pada peserta didik dengan menerapkan strategi Mabar menjadi salah satu faktor pendukung berjalannnya kegiatan ini. Penulis terus memberikan tuntunan yang berimbas pada peningkatan prestasi peserta didik dalam kegiatan pembinaan lomba di SD Negeri Dempet 1.

b.   Dukungan orang tua

Orang tua sangat mendukung penuh kegiatan, karena kegiatan tidak terpancang waktu, bisa dilaksanakan kapanpun dan dimanapun, orangtua senang dapat menyaksikan kreativitas dan tanggung jawab anaknya yang menjadi lebih baik dan diunggah di sosial media sekolah. Orang tua juga tidak segan untuk memberikan bantuan sukarela terkait kelancaran setiap kegiatan yang diikuti oleh putra putrinya.

c.   Dukungan Kepala Sekolah

Kepala sekolah SD Negeri Dempet 1 sangat mendukung kegiatan ini baik secara moril maupun materiil, kepala sekolah memberikan kelonggaran dalam penyusunan RAPBS terkait dengan kegiatan siswa sehingga kebutuhan selama kegiatan terpenuhi dengan baik.

5.   Alternatif Pengembangan

Peningkatan prestasi peserta didik dengan menerapkan strategi Mabar ini akan terus dikembangkan, salah satu alternatif pengembangan yang akan penulis lakukan adalah dengan melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak yang lebih berkompeten untuk diajak memajukan sekolah.

20

Pengembangan lebih lanjut dapat berupa kegiatan sharing session. Penulis ingin mengajak guru lain untuk juga menerapkan strategi Mabar dalam pembinaan peserta didik hingga mencapai prestasi tertinggi sesuai minat, bakat dan potensinya.

 

 

BAB IV

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

A.  Simpulan

Berdasarkan uraian di atas, implementasi Strategi Mabar di SD Negeri Dempet 1 dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.   Langkah-Langkah Penerapan Strategi Mabar

Langkah-langkah penerapan Strategi Mabar (Pemetaan, Kolaborasi, Bimbingan Intensif, dan Refleksi) dilaksanakan secara sistematis. Proses diawali dengan pemetaan potensi siswa melalui tes diagnostik dan data rapor. Dilanjutkan dengan kolaborasi bersama rekan guru untuk merumuskan strategi yang mengedepankan kepemimpinan peserta didik (Student Agency), yang meliputi Voice, Choice, dan Ownership. Kemudian dilakukan bimbingan intensif berdasarkan kesepakatan belajar, di mana guru berperan sebagai mitra dan fasilitator. Langkah terakhir adalah refleksi bersama guru dan peserta didik (menggunakan model Refleksi 4P) untuk menumbuhkan motivasi intrinsik dan perbaikan berkelanjutan.

2.   Hasil atau Dampak Penerapan Strategi Mabar

Penerapan Strategi Mabar menghasilkan peningkatan prestasi peserta didik yang sangat signifikan di SD Negeri Dempet 1.

a.    Kuantitas Prestasi: Jumlah kejuaraan meningkat dari 36 (sebelum 2019) menjadi 185 (sejak 2019 sampai 2025).

b.    Level Prestasi: Capaian di tingkat kabupaten ke atas meningkat drastis. Sebelum Mabar, hanya 5% (2 kejuaraan) di tingkat kabupaten. Setelah Mabar, capaian level prestasi adalah 62% di tingkat kecamatan, 24% di tingkat kabupaten, 8% di tingkat provinsi, dan 6% di tingkat nasional.

c.    Dampak Kualitatif: Siswa menjadi lebih aktif, termotivasi, mampu berpikir kritis, pemahaman materi lebih maksimal, dan penyampaian hasil pembimbingan menjadi lebih terarah.

3.  


Kendala dalam Penerapan Strategi Mabar

Kendala utama meliputi: (a) Peserta didik belum terbiasa dengan strategi Mabar (paradigma lama) sehingga memerlukan energi ekstra dari guru, dan (b) Kekurangmampuan guru dalam memberikan ice breaking atau menghadapi perubahan juknis secara mendadak, yang memengaruhi psikologis belajar anak.

4.   Faktor Pendukung Penerapan Strategi Mabar

Faktor-faktor pendukung kunci adalah: (a) Kemampuan inovasi penulis (guru) dalam mengembangkan dan mengimplementasikan strategi Mabar yang berpihak pada siswa, (b) Dukungan penuh orang tua yang tidak terikat waktu dan bersedia memberikan bantuan sukarela, dan (c) Dukungan kepala sekolah secara moril dan materiil, termasuk kelonggaran dalam penyusunan RAPBS untuk kegiatan siswa.

5.   Alternatif Pengembangan Strategi Mabar

Alternatif pengembangan yang akan dilakukan adalah melakukan kolaborasi lebih lanjut dengan berbagai pihak yang lebih berkompeten untuk memajukan sekolah. Selain itu, penulis berencana melakukan "Sharing Session" untuk mengajak guru lain menerapkan Strategi Mabar dalam pembinaan peserta didik guna mencapai prestasi tertinggi sesuai minat, bakat, dan potensi mereka.

 

B.  Rekomendasi

Berdasarkan hasil praktik baik Strategi Mabar, berikut disampaikan rekomendasi yang relevan:

1.   Guru seharusnya tidak hanya membimbing peserta didik yang akan mengikuti lomba, hanya mengejar target dan mengesampingkan proses, tetapi berani melakukan inovasi pembimbingan yang kontekstual sesuai dengan latar belakang peserta didik dan situasi dan kondisi sekolahnya. Hal ini akan membuat pembimbingan lebih bermakna.

2.  

23

Peserta didik diharapkan dapat mengeluarkan semua ide yang ada di belahan otak kanan maupun otak kiri untuk berani berkompetisi sesuai dengan bakat minat dan potensi masing-masing. Juga menerapkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam belajar, dan tidak hanya terbatas pada hafalan teori saja. Kemampuan belajar dengan cara ini akan membantu peserta didik menguasai materi secara lebih mendalam dan lebih tahan lama (tidak mudah lupa).

3.   Sekolah, terutama kepala sekolah dapat mendorong guru lain untuk ikut melaksanakan strategi pembimbingan Mabar. Dukungan positif sekolah, seperti penyediaan sarana dan prasarana yang memadai dan kesempatan bagi penulis utuk mendesiminasikan praktik baik ini akan menambah wawasan guru lain tentang metode dan model pembimbingan.

4.   Penulis, strategi pembimbingan Mabar akan penulis dijadikan penelitian pada materi dan mata pelajaran yang lainnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

A S Hornby. 2010. Oxford Advanced Learner's Dictionary of Current English. New York: Oxford University Press.

 

Depdikbud. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. Fandy, Tjiptono. 2011. Pemasaran Jasa. Malang: Bayumedia.

 

Kusumadmo, E. 2013. Manajemen Strategik Pengetahuan. Yogyakarta: Cahaya. Atma Pustaka.

 

Kemendikbud. 2020. Program Guru Penggerak Modul 3.3 Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid (Kepemimpinan Murid). Jakarta.

 

Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 14 Tahun 2005. Tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Depdiknas RI.